Sabtu, 14 April 2012

MODERNISASI POLITIK TURKI USMANI DAN TIMUR TENGAH “ KIPRAH ATTATURK DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK TURKI ”

BAB I. PENGANTAR
Penulisan sejarah biasanya berkaitan erat dengan siapa yang menjadi penguasa dizaman sejarah tersebut dibuat. Sebagai contoh sederhana, dizaman Soeharto berkuasa, ia menciptakan sejarah tentang jasa-jasanya menyelamatkan bangsa dan negara dari kudeta. Namun dizaman reformasi, banyak pakar sejarah yang berusaha merevisi ulang semua dogma tersebut karena dogma tersebut dianggap kebenarannya meragukan bagi kaum intelektual.
Melalui tulisan ini, penulis berusaha menelisik dunia politik yang ada di negara Turki, khususnya pada era transisi kepemimpinan Usmani ke Mustafa Kemal Attaturk yang bernafaskan westernisasi. Dalam sejarah dunia dia dianggap sebagai bapak pembaharuan Turki modern yang namanya begitu harum sebagai peletak tonggak sekulerisme Turki.  Dialah orang yang mengabolisi Khilafah Islam dibubarkan pada 3 Maret 1924.
Peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Usmani. Islam dimasa kekhalifahan Turki Utsmani diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan sesama manusia, dan juga sebagai makhluk Allah SWT, serta merupakan suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa pengaruh kedua peradaban tersebut (Arab-Persia) sangat kuat ke dalam kebudayaan bangsa Turki. Pengaruh yang ditimbulkan oleh negara Arab dan Persia sangat nampak dan signifikan berpengaruh pada seluruh aktifitas manusia di wilayah Turki. Sehingga kondisi ini sering kali menimbulkan kekeliruan pada masyarakat awam yang sering menganggap bahwa bangsa Turki sama dengan bangsa Arab.
Suatu anggapan masyarakat awam pada umumnya, yang menurut Negara Turki keliru selalu diluruskan oleh bangsa Turki sejak tumbuhnya nasionalisme pada abad ke-19. Pada perkembangan selanjutnya, guna meluruskan kekeliruan masyarakat tentang penilaian identitas bangsa Turki yang didogma mirip dengan Arab, selanjutnya arah modernisasi yang dilakukan Turki, yang mana modernisasi berkiblat ke dunia Barat, yang juga telah menyerap unsur-unsur budaya Barat yang dianggap modern. Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki hingga saat ini.
Pengaruh barat yang ikut mewarnai identitas Turki tersebut, salah satunya digagas oleh Mustafa Kemal Attaturk. Hal inilah yang menjadi latar belakang penulis untuk menelisik lebih jauh mengenai dunia politik di Negara Turki. Hal-hal yang melatarbelakangi masuknya pengaruh barat dalam kancah kehidupan politik di Turki yang disebut dengan sekulerisme yang nantinya menjadi wajah baru dalam kehidupan politik di Turki akan dipaparkan penulis dalam makalah ini. Pada makalah ini akan dibahas ide-ide pembaharuan yang dilakukan oleh seorang tokoh pembaharu di Turki yakni “Mustafa Kemal”, beliau dikenal sebagai seorang tokoh pembaharu yang berperan menyelamatkan bangsa dan Negara Turki dari mala petaka kehancuran total akibat penjajahan Eropa, meskipun pada akhirnya tokoh yang satu ini dianggap sebagai tokoh kontroversial yang telah merubah budaya kekhalifahan yang menjadi karakter kerajaan Turki Usmani selama beratus-ratus tahun menjadi negara yang beraliran sekuler, bahkan dikenal sebagai “Pencipta Turki Modern” dan oleh bangsa Turki diberi gelar sebagai “Attaturk” .

BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Letak Geografis Negara Turki
Secara geografis, definisi Timur Tengah tidak begitu jelas. Tapi para sejarawan sepakat menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Timur Tengah adalah wilayah yang terbentang antara Lembah Nil (The Nile Valley) hingga negeri-negeri Muslim di Asia Tengah (lebih kurang Lembah Amur Darya atau Sungai Oxus), dari Eropa yang paling tenggara hingga lautan Hindia. Negeri-negeri Muslim di Asia yang ada didalamnya sering juga disebut dengan Timur Dekat (the Near Asia), menurut informasi yang penulis dapat, istilah timur dekat populer pada zaman peradaban klasik yang dipopulerkan oleh bangsa-bangsa barat, dan khusus bagian Benua Asia biasa juga disebut dengan Asia Barat (West Asia). Amerika Serikatlah yang mempopulerkan istilah Timur Tengah setelah Perang Dunia II.
Negara Turki modern adalah satu negara yang wilayahnya terletak di dua benua sekaligus. Dengan luas wilayah sekitar 814.578 kilometer persegi, 97% (790.200 km persegi) wilayahnya terletak di benua Asia dan sisanya sekitar 3% (24.378 km persegi) terletak di benua Eropa . Republik Turki adalah sebuah negara besar di kawasan Eurasia. Ibu kotanya berada di Ankara namun kota terpenting dan terbesar adalah Istanbul. Posisi geografi yang strategis itu menjadikan Turki jembatan antara Timur dan Barat. Bangsa Turki diperkirakan berasal dari Asia Tengah. Secara historis, bangsa Turki mewarisi peradaban Romawi di Anatolia, peradaban Islam, Arab dan Persia sebagai warisan dari Imperium Usmani dan pengaruh negara-negara Barat Modern. Hingga saat ini bangunan-bangunan bersejarah masa Bizantium masih banyak ditemukan di Istanbul dan kota-kota lainnya di Turki. Yang paling terkenal adalah Aya Sofya, suatu gereja dimasa Bizantium yang berubah fungsinya menjadi mesjid pada masa Khalifah Usmani dan sejak pemerintahan Mustafa Kemal hingga kini dijadikan musium.

2.2 Siapa Mustafa Kemal Attaturk ?
Dalam pembahasan siapa Mustafa Kemal Attaturk? penulis akan menjelaskan tentang biografi dari Mustafa Kemal Attaturk. Biografi ini penulis sertakan dalam makalah dengan tujuan, supaya pembaca bisa mengetahui latar belakang tokoh yang digembor-gemborkan dunia sebagai tokoh sekulerisasi di Turki dan membawa pembaharuan pada aspek politik khususnya.
Pada tanggal 12 Maret 1881, di suatu tempat di Salonika (sekarang Thesaloniki dan masuk wilayah Yunani) lahirlah seorang putra, yang diberi nama Mustafa.  Bapaknya bernama Ali Reza Efendi, seorang pegawai pajak yang setelah pensiun menjadi pedagang kayu. Ibunya bernama Zubeyda Hanim, seorang putri dari keturunan Turki tua yang telah mengatur kota Langasa dekat Salonika, Zubeyda Hanim mempunyai watak yang kuat yang tidak mudah menyerah kepada kehendak sang suami.
Mustafa Kemal menikah dengan seorang wanita bernama Latifa Usakligil. anak perempuan Ushakizade Muammer, seorang Smyrna yang kaya dan berminat pada perkapalan dan perdagangan internasional. Meskipun Latifa orang turki yang berkulit zaitun dan memiliki mata gelap dan besar, namun ia telah belajar ilmu hukum di Eropa dan berbahasa Perancis seperti wanita Perancis. Mereka menikah di rumah ayah Latifa dengan gaya Eropa sebagai upaya untuk menghapuskan adat-adat yang Islami. Dalam perkawinan Islam, pengantin laki-laki dan perempuan tidak boleh saling bertemu sampai setelah upacara akad nikah selesai. Namun, Kemal dan Latifa melanggar tradisi dan mengucapkan janji setia mereka sambil duduk di atas bangku.
Setelah itu Kemal mengajak istrinya melakukan perjalanan bulan madu, dengan memanfaatkan istrinya sebagai contoh dalam kampanyenya untuk menggalakkan emansipasi terhadap wanita Turki. ”Itulah cara untuk memperlakukan seorang wanita,” katanya, dengan menunjuk Latifa yang berdiri di sampingnya dengan mengenakan celana. Memamerkan istrinya dengan cara yang tidak lazim semacam itu menyulut kemarahan bagi kalangan Islam yang mereka sebut tradisionalis di antara lawan-lawan politiknya, khususnya ketika Latife tampil mengenakan gaun pendek yang mempertontonkan bagian-bagian tubuh secara terbuka pada berbagai acara pesta besar.
Pernikahan Mustafa Kemal hanya berjalan singkat selama dua tahun antara tahun 1923-1925, disebabkan istri Mustafa Kemal meninggal dunia. Dari pernikahannya yang singkat, dia tak memperoleh anak. Tetapi Mustafa mmpunyai banyak anak angkat, dan yang paling dikenal publik adalah Ulku.

2.3 Pendidikan Mustafa Kemal Attaturk.
Riwayat pendidikan Mustafa Kemal dimulai sejak tahun 1893, namun hal tersebut menimbulkan pro dan kontra didalam keluarga Mustafa Kemal sendiri, karena Ali Reza dan Zubeyda mempunyai pandangan yang berbeda dalam memberikan pendidikan kepada Mustafa. Ali Riza, sang ayah, ingin agar Mustafa masuk ke sekolah umum, tapi ibunya, Zubeyda yang berlatarbelakang sebagai ahli agama Islam, menginginkan Mustafa hafal Quran dan ia harus jadi seorang hoja (guru agama). Dengan terpaksa sang ayah mengalah dan Mustafa pun dikirim masuk sekolah di Madrasah Fatimah Mullah Kadin,  pendidikan Islam yang terkemuka di Kota Salonika. Diterima di sekolah itu agaknya sesuatu yang istimewa. Dalam buku Atatürk: The Rebirth of a Nation, Patrick Kinross mengutip penuturan Mustafa tentang upacara di hari pertama itu :
“Di pagi hari, ibunya mendandaninya dengan pakaian putih dan kalung leher bersulam emas; sorban melingkar di kepala. Ia pun dijemput seorang hoja beserta ulama lain. Mereka melangkah ke jalan dalam semacam prosesi ke sekolah. Di sekolah yang bertaut dengan sebuah masjid itu, doa bersama pun dibacakan. Lalu sang guru membimbing Mustafa masuk ke sebuah ruang. Di sana sebuah Quran sudah siap terbuka”.
Namun nampaknya Mustafa tidak tenang belajar di Madrasah Fatimah Mullah Kadin, dengan bukti ia sering melawan gurunya. Hanya beberapa hari belajar disana Mustafa lari dari sekolah itu dan setelah orang tuanya tau bahwa Mustafa tidak tenang belajar disana, ayahnya memindahkannya ke sekolah rakyat Shemsi Effendi yang menggunakan metode pendidikan modern, nama sekolahnya adalah Rushdiye Salonika (sekolah menengah militer anti Turki). Namun ironisnya pada usia 12 tahun, ayah Mustafa meninggal dunia, sehingga ia hanya dibesarkan oleh ibunya. Bersama ibu dan adik perempuannya, Mkbule Hanim, Mustafa pindah ke rumah pamanya di suatu desa. Ia dan Makbune Hanim setiap hari membantu menjaga sawah pamannya dari gangguan burung.
Pada usia 14 tahun yaitu tepatnya tahun 1895 Mustafa masuk ke sekolah militer di Manastir, tempat ini adalah pusat nasionalisme Yunani yang anti Turki. Di sekolah tersebut nama Mustafa ditambah dengan nama Kemal  oleh guru matematikanya, sebagai pengakuan atas kecerdasan akademik yang ia peroleh.
Saat-saat liburannya di Salonika, Mustafa Kemal senang berkunjung ke tempat-tempat hiburan Eropa dimana para wanita tidak mengenakan cadar, menyanyi, berdansa, dan duduk di meja bersama laki-laki. Dari situlah Mustafa Kemal mulai mengenal pergaulan dunia Eropa, dan dia mulai menyenangi minum-minuman keras.
Pada 13 Maret 1899 ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istambul sebagai kader pasukan infanteri. Melihat jenjang pendidikan Mustafa Kemal spesialis di bidang militer, tampaknya ia ingin menjadi militer yang professional dan tangguh. Akan tetapi Mustafa Kemal menyadari bahwa pengetahuan kemiliterannya belum cukup untuk menunjang karirnya dimasa depan. Maka ketika Mustafa Kemal masih dalam proses belajar, ia mencari nilai tambah pengetahuannya, yaitu salah satunya mempelajari politik dengan memanfaatkan pergaulannya.
Mustafa Kemal banyak bersandar pada teman-temannya para pendeta Macedonia yang sengaja ”menangkapnya”. Para pendeta Macedonia inilah yang mengajarkan dasar-dasar bahasa Perancis bersama seorang teman Mustafa dari Macedonia yang bernama Fethi. Dan temannya yang bernama Ali Fethi inilah yang nantinya mendorong Mustafa Kemal mempelajari bahasa Perancis,. Keduanya diajari buku-buku karya pemikir-pemikir liberal yang mana merupakan filosuf-filosuf yang terkenal serta ahli-ahli teori ilmu politik dan kenegaraan, filsafat dan juga sosiologi bahkan hingga saat ini ajaran filosuf tersebut masih dipelajari para intelektual modern, filosuf tersebut seperti Voltaire, Rousseau, Thomas Hobbes, dan John Stuart Mill, Auguste Comte, serta buku-buku lainnya. Hingga akhirnya, Mustafa mengarang syair yang mendengung-dengungkan nasionalisme dan berpidato di depan akademi militer. Mustafa berbicara kepada mereka tentang kerusakan sultan sebelum dia berumur 20 tahun.
Tahun 1902 ia ditunjuk menjadi salah satu staf pengajar dan Mustafa Kemal kemudian ditempatkan di Istambul. Di sana dia menjadi pengunjung rutin rumah Madame Corinne, seorang janda Italia yang hidup di Pera, sebuah distrik kota yang telah mengalami westernisasi. Ia pun hanyut dalam minum-minuman keras, bermain judi, dan bersenang-senang dengan musik. Akhirnya setelah mencapai nilai tertinggi dalam ujian akhir, pada bulan Januari 1905 ia lulus dengan pangkat kapten atau letnan.

2.4    Karir Militer Mustafa Kemal
Adapun karir militer yang dialami Mustafa Kemal dapat penulis kronologiskan menjadi tujuh, yaitu:
1.    Lulus Akmil Istambul (1905)
2.    Membentuk kelompok rahasia tanah air dan masyarakat bebas (1906)
3.    Mengukir prestasi dalam perang Gallipoli melawan Sekutu (1915)
4.    Menyatukan gerakan nasional Turki melawan Yunani dan terpilih sebagai presiden Kongres Nasional (1919)
5.    Membentuk Republik Turki dan terpilih sebagai presiden (1923)
6.    Memulai program reformasi dibidang hukum, politik, dan kebudayaan (1924)
7.    Memakai gelar Attaturk (1933)
Setelah mendapat pangkat letnan pada tahun 1905, kemudian ia ditempatkan di Damaskus.  Pada waktu Turki berada dibawah pemerintahan Sultan Abdul Hamid, yang mana pemerintahannya bersifat refresif. Kondisi ini mendukung timbulnya perkumpulan-perkumpulan rahasia baik dikalangan politisi maupun kaum muda dikalangan militer. Tanpa berfikir panjang Mustafa Kemal segera bergabung dengan sebuah kelompok rahasia yang terdiri dari perwira-perwira yang menginginkan pembaruan tersebut. Kelompok ini kemudian bernama Vatan ve Hürriyet (Tanah Air dan Kemerdekaan), dan menjadi penentang aktif rezim Dinasti Usmani tepatnya pada tahun 1906.
Kemudian pada tahun 1907 ia ditempatkan di Selanik dan bergabung dengan Komite Kesatuan dan Kemajuan yang biasa disebut sebagai kelompok Turki Muda. Kelompok ini menentang rezim Dinasti Usmani karena dianggap menekkan segala pemikiran liberal. Menurut kelompok Turki Muda Islamlah yang harus bertanggung jawab atas keterbelakangan Turki, mereka menganggap Syari’ah Islam yang diterapkan oleh Dinasti Usmani merupakan cara kuno untuk mengatur pemerintahan di Turki.
Pada tahun 1919 Masehi, Mustafa Kemal berhasil membuat prestasi dengan cara  bersandiwara menyatukan gerakan nasional Turki, hal ini dilakukan untuk menutupi kebenciannya kepada Islam dan untuk meraih simpati rakyat. Ketika dia berhasil menang atas Yunani di Ankara, ia berbicara di hadapan publik, ”Sesungguhnya semua rencana akan diambil tidak dimaksudkan kecuali untuk melindungi kesultanan dan khilafah serta pembebasan sultan dan negeri ini dari perbudakan orang-orang asing.”
Bulan April 1920 Mustafa Kemal membentuk dan memimpin Majelis Nasional Agung Turki yang berpusat di Ankara.
Tahun 1922 kaum nasionalis sekuler Turki makin merajelela. Sultan Mehmet VI Vahdettin (Wahiduddin) dijatuhkan. Kelompok nasionalis ini membuat kekuasaan Khalifah ditiadakan pada tanggal 1 November 1922.
Mulailah Mustafa Kemal menampakkan kebenciannya kepada Islam. Dan sedikit demi sedikit mengenalkan westernisasi di Turki Usmani. Pada tanggal 19 November 1922 melalui Majelis Nasional Turki di Ankara, Mustafa Kemal mengangkat Abdul Majid II menjadi Khalifah menggantikan Muhammad Wahiduddin yang melarikan diri. Sultan Abdul Majid ini sebenarnya hanya khalifah boneka yang sama sekali tidak memiliki kekuasaaan apa-apa.
Pada tanggal 29 Oktober 1923 kaum nasionalis sekuler Turki memproklamirkan berdirinya Republik Turki dengan Mustafa Kemal sebagai presidennya. Tidak lama berkuasa, ia menyatakan tegas bahwa ia akan menghancurkan puing reruntuhan Islam dalam kehidupan bangsa Turki. Hanya dengan mengeliminasi segala hal berbau Islam, Turki bisa ‘maju’ menjadi bangsa modern yang dihormati. Tanpa ragu Kemal menyerang Islam dan pilarnya. Dan itulah puncak keberhasilan Mustafa Kemal dalam perjuangannya membentuk wajah baru dunia politik Turki, yang tadinya merupakan Negara Islami bahkan diidentikkan dengan pengaruh Arab dan Persia yang kuat, kini menjadi Negara Republik yang bernuansa nasionalisme, populisme, etatisme, sekularisme, dan revolusionisme. Hal ini akan Nampak pada keberlangsungan pemerintahan Mustafa Kemal dalam memimpin Turki. Dari kelahiran Republik Turki inilah ia di juluki sebagai Attaruk (bapak Turki)

2.5    Mustafa Kemal Ataturk Dan Westernisasinya
Usaha pembaharuan Kemal dimulai ketika perjuangan kemerdekaan telah selesai. Dalam langkah pembaharuannya tersebut, Kemal melihat Barat sebagai model yang ideal, oleh karena itu, Kemal ingin mewujudkan peradaban Barat di Turki dengan jalan westernisasi dan skularisasi hamper dalam segala bidang. Dalam bidang politik, Kemal membentuk suatu Negara Republik dan ibukotanya Ankara. Mustafa Kemal sebagai Presiden dan Ismet sebagai Perdana Mentri. Kemudian ia membentuk Majelis Nasional Agung dan ditetapkan aturan sebagai berikut :
1.    Kekuasaan tertinggi terletak ditangan rakyat Turki
2.    Majelis Nasional Agung merupakan perwakilan rakyat tertinggi
3.    Majelis Nasional Agung bertugas sebagai badan legislatif dan badan eksekutif
4.    Majelis Negara yang anggotanya dipilih dari Majelis Nasional Agung akan menjalankan tugas pemerintah.
5.    Ketua Majelis Nasional Agung merangkap jabatan Ketua Majelis Negara.
Semenjak menjadi presiden, Kemal mengambil alih jabatan-jabatan strategis dan membebaskan pengaruh-pengaruh agama didalamnya. Namun hal ini bukan berarti Negara menghilangkan agama. Agama masih mempunyai peran melalui Direktorat Jendral Urusan Keagamaan, dibawah wewenang Perdana Mentri. Dalam bidang hukum dan pendidikan, Mustafa Kemal menghapuskan kementrian urusan syari’at yang semula dibentuk sebagai pengganti Biro Syaikh Al-Islam. Pada tahun 1926 hukum syari’ah diganti dengan Undang-Undang Sipil, perkawinan bukan lagi dilakukan menurut syari’at tetapi menurut hokum sipil. Dan selanjutnya dibuat hukum baru seperti hukum dagang, hukum pidana, hukum laut, hukum obligasi yang semuanya diambil dari Barat.

2.6 Pembaharuan Dalam Bidang Pendidikan
Dalam bidang pendidikan pun mengalami sekulerisasi, hal ini dapat dilihat dalam penghapusan bahasa Arab dan bahasa Persia sebagai bahasa komunikasi belajar mengajar diganti dengan bahasa Latin. Pendidikan Agama di sekolah pun dihapuskan, dan diganti pendidikan agama adalah merupakan tanggungjawab dari orang tua dan lembaga pendidikan imam dan khatib. Dan terlihat lagi pada tahun 1931 Fakultas Teologi di Istambul ditiadakan. Dalam uraian diatas terlihat bahwa Mustafa Kemal telah mengikis habis unsur-unsur keagamaan dalam kancah politik dalam hal ini yaitu melalui konstitusi dan struktur pemerintahan, namun Kemal tidak menghilangkan agama dari kehidupan rakyat Turki. Oleh karena itu tidak heran apabila Islam masih melekat dalam kehidupan rakyat Turki meski aturan Negara bukan lagi menganut syari’at Islam.

2.7    Perbaharuan Dalam Budaya Dan Kesenian.
Mustafa Kemal menganggap fez (dalam bahasa Turki "fes" (topi Turki), yang mulanya diperkenalkan Sultan Mahmud II sebagai aturan berpakaian di Kekaisaran Ottoman pada 1826) sebagai lambang feodalisme dan karena sebab itu ia melarang pemakaiannya di muka umum. Ia mendorong lelaki Turki untuk mengenakan pakaian orang Eropa. Meskipun Islam melarang keras minuman yang mengandung alkohol, ia menggalakkan produksi dalam negeri dan mendirikan industri minuman keras milik negara. Ia menyukai minuman keras nasional, rakı, dan banyak sekali meminumnya.
Atatürk pernah mengatakan: "Kebudayaan adalah dasar dari Republik Turki." Pandangannya tentang kebudayaan termasuk warisan kreatif bangsanya sendiri dan apa yang dipandangnya sebagai nilai-nilai yang mengagumkan dari peradaban dunia. Terutama sekali ia menekankan humanisme. Ia pernah menggambarkan tekanan ideologis Turki modern sebagai "suatu kreasi patriotisme dicampur dengan gagasan humanis yang luhur."
Untuk membantu pencampuran sintesis seperti itu, Atatürk menekankan perlunya memanfaatkan unsur-unsur warisan nasional bangsa Turki dan bangsa Anatolia (termasuk budaya-budaya pribuminya yang kuno) serta kesenian dan teknik dari peradaban-peradaban dunia lainnya, baik pada masa lalu maupun sekarang. Ia menekankan perlunya mempelajari peradaban-peradaban Anatolia kuno, seperti bangsa Het, Frigia, dan Lidia. Kebudayaan Turki pra-Islam menjadi pokok penelitian yang luas, dan tekanan khusus diberikan kepada kenyataan bahwa -- jauh sebelum peradaban Seljuk dan Ottoman -- bangsa Turki telah memiliki kebudayaan yang kaya. Atatürk juga menekankan kesenian rakyat di pedesaan sebagai mata air kreativitas Turki.
Kesenian visual dan plastik -- yang perkembangannya sekali-sekali ditahan oleh sebagian pejabat Ottoman dengan anggapan bahwa penggambaran wujud manusia adalah bentuk penyembahan berhala -- berkembang di bawah masa kepresidenan Atatürk. Banyak museum yang dibuka; arsitektur mulai mengikuti arus yang lebih modern; dan musik, opera, dan balet klasik barat, serta teater, juga mengalami kemajuan besar. Ratusan "Wisma Rakyat" dan "Ruang Rakyat" di seluruh negeri memungkinkan akses yang lebih luas terhadap berbagai kegiatan kesenian, olah raga dan acara-acara kebudayaan lainnya. Penerbitan buku dan majalah juga meningkat pesat, dan industri film mulai berkembang.
Mustafa Kemal memiliki visi sekuler dan nasionalistik dalam programnya membangun Turki kembali. Ia dengan keras menentang ekspresi kebudayaan Islam yang asli terdapat di kalangan rakyat Turki. Penggunaan huruf Arab dilarang dan negara dipaksa untuk beralih ke abjad yang berbasis Latin yang baru. Pakaian tradisional Islam, yang merupakan pakaian kebudayaan rakyat Turki selama ratusan tahun, dilarang hukum dan aturan berpakaian yang meniru pakaian barat diberlakukan.

2.8    Bidang Ekonomi.
Westernisasi dan sekulerisasi juga dilakukan dalam bidang ekonomi. Meskipun Turki banyak menyerap peradaban barat, seperti yang telas dijelaskan sebelumnya, akan tetapi Kemal membatasi diri untuk bekerjasama dengan barat dalam bidang ekonomi. Karena Kemal tidak menginginkan negaranya dikuasai oleh kekuatan asing. Sumber-sumber vital dalam negeri diambil alih oleh Negara, untuk mengantisipasi resesi ekonomi dunia sebagai akibat Perang Dunia I, pihak penguasa Turki menerapkan beberapa kebijaksanaan ekonomi, antara lain:
1.    Mengurangi volume perdagangan luar negeri,
2.    Menekan belanja rutin,
3.    Mengurangi pengeluaran atau anggaran militer menjadi rata-rata 28% dari seluruh anggaran pengeluaran,
4.    Memberi bantuan kepada sektor swasta agar bisa lebih mandiri.
Perbaikan-perbaikan dibidang ekonomi ini memang sangat menentukan bagi kelanjutan gerakan pembaharuan Kemal, karena kalau tidak ada pembaharuan dalam bidang ini gerakan oposisi akan lebih mudah dalam mengacaukan situasi. Sebagai akibat dari kebijaksanaannya, ekonomi Turki pada tahun 1949 sangat baik. Disektor pertanian masyarakat Turki selalu mengalami surplus, sehingga kebutuhan pangan dalam negeri selalu terpenuhi. Dengan demikian, Kemal dapat mempertahankan kekuasaannya selama 15 tahun sekalipun banyak tantangan dari pihak oposisi.
Pemikiran dan gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Kemal, disamping telah membuahkan hasil yang sangat menggembirakan, ialah menyadarkan umat Islam di Turki dari ketertinggalannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat, oleh karena itu Kemal memberikan pencerahan kepada umat Islam di Turki khususnya, umat Islam diseluruh dunia pada umumnya.
Dalam gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Kemal, disamping telah membuahkan hasil yang positif, bukanlah sebuah jalan tol yang licin dan bukan pula jembatan emas yang terbebas dari onak dan duri, namun sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan penuh tantangan. Karena dengan adanya pembaharuan adanya kontak Islam dengan Barat, mendorong kaum muslim berfikir kritis, analitis, obyektif dan rasional. Sehingga nantinya memunculkan jati diri Turki sebagai Negara yang masing-masing individu bernafaskan islam, namun dalam konteks kehidupannya juga beriringan dengan peradaban Barat, sebagai penyesuaian kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, sistem pemerintahan dan aspek yang lainnya.

BAB III. PENUTUP
Berdasakan kajian yang telah diuraikan dalam pembahasan masalah, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Dari biografi yang dipaparkan oleh penulis sejak dini Mustafa Kemal memang mempunyai bakal dalam bidang politik, dan menaruh kebencian dengan ajaran Islam, hingga akhirnya ia mempelajari westernisasi sebagai tonggak pemikiran-pemikirannya mengenai wajah baru yang akan digoreskan dalam kancah dunia politik Turki.
2.    Sebelum menjadi sebuah negara republik, Turki merupakan sebuah dinasti Islam terakhir yang bernama Turki Usmani. Wilayah kekuasaan Turki Usmani sangat luas yang menjadikannya kekuatan yang disegani oleh dunia internasional khususnya negara-negara Eropa. Kemajuan teknologi yang terjadi di Eropa tidak sejalan dengan apa yang terjadi di Turki Usmani yang mengakibatkan kesultanan ini menjadi lemah dan tertinggal dari negara-negara Eropa yang telah lebih maju. Beranjak dari situasi dan kondisi seperti ini, seorang perwira militer yang memiliki paham nasionalisme hadir dan menggagas sebuah negara republik untuk menggantikan sistem pemerintahan Islam yang dianggap kolot dan tidak mampu membawa negara kedalam kemajuan seperti negara-negara Eropa. Keinginannya ini akhirnya tewujud melalui berbagai cara perjuangan serta pergerakannya yang cukup panjang serta menghantarnya menjadi pemimpin pertama negara Republik Turki yang dibentuknya yang menganut prinsip republikanisme, nasionalisme, populisme, etatisme, sekularisme, dan revolusionisme.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar